Tuesday, December 27, 2011

..r.i.m.b.a..a.m.o.n.i.o.t.i.k..

By Dee,

Beberapa hari lagi sebelum kehadiran mu, atau bahkan beberapa jam? aku tak persis tahu. Banyak yang ingin aku ucapkan, tapi sepertinya kau yang sudah tahu. Sekian lama kita bernapas bersama, bergerak bersama, merasa bersama. Kau begitu dekat bahkan bersatu dengan tubuh ku, tapi tetap saja, disini aku menanti kehadiran mu. Perjalanan mu kelak hanyalah dari perut ku menuju dekapan ku. Namun itulah perjalanan yang akan mengubah kita berdua. Mengubah dunia.


Saat kau tiba, aka tak lagi menjadi manusia yang sama. Dan kau juga akan melihat dunia yang berbeda. Selapis kulit saja tabir yang membatasi kita, tapi sungguh berkuasa.


Perjalanan mu, kata kau dulu adalah perjalanan yang akan mengingatkan mereka yang lupa. Termasuk aku. Keterpisahan adalah ilusi. dunia jasad dan dunia roh, dunia materi dan dunia energi; hanyalah dua sisi dari koin yang sama. Hidup tak pernah berakhir mati. Hidup hanya berganti wujud. Dan sepanjang perjalanan bernama hidup, kau dan aku, kita semua, hanya berjalan menembusi satu tabir iru saja. Membolak balik koin yang sama. Menyebrangi selapis kulit dan daging sebagaimana yang membatasi kita kini.


Kau datang dalam segala kegenapan mu. Kau datang, bahkan sudah dengan nama. Kau datang dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan. Namun kau akan sejenak lupa, begitu kata mu dulu. Sama seperti kita semua yang dibuat lupa saat menyebrangi tabir itu. Tolong ingatkan aku, pinta mu. Aku memilih mu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sam alain, lanjutmu lagi. Saat kita berdua masih sama-sama ingat. Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin.



Entah bagaimana harus aku mencintai mu. Kau lebih seperti guru sekaligus sahabat. Waktu kau tiba dalam bentuk mungil dan rapuh nanti, biarlah alam yang akan mengajarkanku untuk mencintai mu lagi dari nol. Seolah kitatak pernah bertemu sebelumnya, seolah kita tak pernah bercakap-cakap bagai dua manusia dewasa, karena dalam bahasa jiwa semua "seolah" yang kusebut barusan tiada guna. Waktu, usia dan perbedaan jasad kita, lagi-lagi hanyalah hadiah dari sisi koin dimana kita sekarang tinggal. Hadiah yang harus direngkuh dan diterima.

Sembilan bulan ini mereka bilang aku tengah mengandungmu. Aku ingin bilang, mereka salah. Kamulah yang mengandungku. Seorang Ibu yang mengandung anak di rahim sesungguhnya sedang berada dalam rahim yang lebih besar lagi. Dalam rahim itu, sang Ibu dibentuk dan ditempa. Embrio kecil itu mengemudikan hati, tubuh dan hidupnya.


Terima kasih telah mengandungku, menempatkan ku dalm rimba amniotik dimana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup, untukberserah dan menerima apa pun yang aku persembahkan. Kini dan nanti. Manis, pahit, sakit, senang, kau ajari aku untuk berenang bersama itu semua, sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa, mengecap apa yang ku makan, menghirup udara yang kue endus, tanpa bisa pilih-pilih. Kau terima semua yang kupersembahkan bagi mu.


Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihan mu datang melalui aku. Untuk proses yang tak selalu mudah, tapi selalu indah.


Aku tak sabar untuk mengenal mu lagi. Lagi dan lagi.


Untuk sahabat yang tengah kukandung. Atisha

No comments:

Post a Comment